Rabu, 21 November 2012

makalah john


PENDEKATAN HISTORIS DALAM PERBANDINGAN AGAMA
I.                   PENDAHULUAN
Pendekatan historis merupakan salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengungkap sebuah peristiwa dimana dalam sejarah ditemukan berbagai fakta, benda-benda arkeolog untuk menguak sebuah misteri adanya peristiwa tersebut. Sejarah dalam perbandingan agama memiliki tingkatan yang urgen dalam pengembangan maupun dalam  menganalisa agama-agama yang ada didunia ini. Sejarah dapat menemukan apa yang ada dalam suatu agama tersebut baik meliputi tata cara peribadatan, tingkah laku, moral, hukum dan lain sebaganya.
Pendekatan merupakan cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya di gunakan dalam memahami agama. Dalam hubungannya dengan hal ini, Jalaludin Rahmat mengatakan bahwa agama dapat di teliti dengan menggunakan berbagai paradigma. Adapun realitas - realitas keagamaan yang di ungkapkan mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya. Terdapat banyak pendekatan dalam perbandingan agama, salah satunya adalah pendekatan historis. Dimana agama dikaji dari segi segi sejarah atau aspek periodisasi dan adanya pengaruh antara agama yang satu dengan yang lain. Dan dalam makalah ini akan di bahas mengenai pendekatan historis dalam perbandingan agama.

II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Apa Pengertian dari Pendekatan Historis dalam Perbandingan Agama?
B.     Bagaimana Metode dan Tujuan pendekatan Historis ?
C.     Apa Saja Tahap-tahap yang digunakan dalam Pendekatan Historis ?
D.    Bagaimana Asal Usul Agama-agama?

III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pendekatan Historis
Penelitian berbasis sejarah yakni melakukan rekonstruksi terhadap fenomena-fenomena masa lampau baik gejala keagamaan yang terkait dengan, politik, sosial, ekonomi dan budaya. Untuk merekonstruksi pendekatan historis tersebut dapat dilakukan dengan cara melakukan wawancara secara mendalam terhadap pelaku sejarah dan saksi hidup, juga dapat melakukan telaah kepustakaan seperti koran, majalah,  arsip, dokumen-dokumen dan lain sebagainya.[1]
Pendekatan historis yaitu usaha untuk menelusuri asal-usul dan perkembangan pemikiran dan lembaga keagamaan melalui berbagai periode perkembangan tertentu, serta untuk memahami peran kekuatan-kekuatan yang dimainkan oleh agama dalam periode – periode tersebut. Penelitian jenis ini harus dimulai dari masa yang paling awal yang mungkin dilakukan dalam sejarah manusia.[2]
Oleh karena itu, menurut Hasan Usman (1986:16), metodologi penelitian sejarah adalah suatu periodesasi atau tahapan-tahapan yang ditempuh suatu penelitian sehingga dengan kemampuan yang ada dapat mencapai hakikat sejarah. Sedangkan yang disebut dengan kenyataan dan kebenaran sejarah bukanlah harus sampai pada kenyataan dan kebenaran mutlak. Karena hal itu berada di luar kemampuan, juga hilangnya petunjuk, misalnya bekas peninggalan, atau karena ada tujuan dan kepentingan tertentu. Dengan demikian hakikat yang dikemukakan sejarah adalah hakikat yang valid tetapi relatif.[3]
Hampir semua studi ilmiah terhadap agama-agama mensyaratkan adanya beberapa pengetahuan tentang sejarah. Maka pendekatan Historis untuk mengkaji agama tidaklah unik atau tidak khas dalam perhatiannya terhadap ketelitian atau terhadap sejarah suatu agama. Ia adalah khas karena anggapan dasar, bahwa jika seseorang ingin memahami atau menjelaskan agama, orang itu harus tahu sejarah asal-usulnya.[4]
Bilamana kita bandingkan cara kerja sejarawan adalah justru berbeda dari apa yang dilakukan para teolog. Para teolog menjelaskan suatu refleksi yang sistematis terhadap isi pengalaman keagamaaan sambil mengarahkan kepada suatu pemahaman yang lebih dalam dan lebih jelas hubungan antara Tuhan sebagai pencipta dan manusia sebagai ciptaan. Sedangkan sejarawan agama berusaha dengan mencari fakta-fakta agama secara historis untuk memahiaminya dan berusaha supaya dapat dimengerti orang lain.[5]
Dapat disimpulkan bahwa pendekatan historis merupakan usaha untuk menelusuri asal-usul berdasarkan data-data sejarah.

B.     Metode dan Tujuan Pendekatan Sejarah
Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau. Rekonstruksi yang imajinatif daari masa lampau berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh prose situ di sebut historiografi.
1.      Metode Lisan
Dengan metode ini pelacakan suatu objek sejarah dilakukan dengan interview. Metode interview atau wawancara diseebut juga kuesioner lisan karena terjadi suatu dialog yang dilakukan oleh pewawnacar untuk memperoleh informasi dari terwawancara. 
2.      Metode Observasi
Dalam metode observasi objek sejarah diamati secara langsung. Metode observasi merupakan metode pengumpulan data, yakni penyelidikan yang dijalankan secara sisitematis dan sengaja diadakan dengan menggunakan alat indra terhadap kejadian yang dapat langsung ditangkap.
3.      Metode Dokumenter,
Metode dokumenter yaitu metode pengumpulan data yang digunakan untuk mengetahui data yang dapat dilihat secara langsung.[6]
Sejarah agama pertama-tama berurusan dengan agama dalam lingkupnya masing-masing, perkembangannya dalam lingkup itu dan hubungannya dengan nilai-nilai budaya lain yang termasuk dalam lingkup yang sama. Oleh karena itu, sejarah agama mempelajari data religius dalam kaitan historisnya, bukan saja dengan data religius lain, tetapi juga dengan data yang bukan religius, apakah itu kesusastraan, kesenian, kemasyarakatan, dan sebagainya lebih dari itu, tidaklah cukup hanya mengetahui apa yang tepatnya terjadi dan bagaimana fakta itu didapatkan. [7]
Pendekatan sejarah dalam perbandingan agama memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut :
a.        untuk menemukan gejala-gejala agama dengan menelusuri sumber dimasa silam
b.      Untuk menemukan sumber-sumber dan jejak perkembangan prilaku keagamaan sebagai dialog dengan dunia sekitarnya
c.       Untuk mencari pola-pola interaksi antara agama dan masyarakat
d.      Membimbing kearah pengembangan teori tentang evolusi agama dan perkembangan tipologi kelompok-kelompok keagamaan.[8]

C.     Tahap-tahap yang digunakan dalam Pendekatan Historis
Penerapan metode historis ini menempuh tahapan-tahapan kerja, sebagaimana yang dikemukakan oleh Notosusanto (1971:17) sebagai berikut
1.       Heuristik, yakni pengumpulan sumber sejarah yang dilakukan terhadap sumber sejarah yang mempunyai nilai akurat, autentik dan kredible, sehingga hasil penelitian dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
2.       Kritik (sejarah), yakni menyelediki apakah jejak itu sejati baik bentuk maupun isinya. Untuk mengurangi kesulitan didalam menghadapi berbagai sumber sejarah, dan dalam rangka menghemat waktu serta ketepatan sumber, maka diperlukan seleksi sumber sejarah berdasarkan relevansi terhadap penelitian yang dilakukan. Sumber yang relevvan dengan penulis sejarah agama penting di ambil, sedang sumber yang tidak relevan lebih baik diabaikan. Sumber yang benar-benar memiliki relevansi itu kemudian dikaji ulang dengan menggunakan metode kritik sejarah.
3.       Interpretasi, yakni menetapkan makna dan saling berhubungan dari fakta yang diperoleh sejarah itu. Langkah ini sebetulnya merupakan proses atau kegiatan penelitian yang tidak terpisahkan dari langkah penulis sejarah, yaitu proses analisis terhadap fakta-fakta sejarah, bahkan proses penyusunan fakta-fakta sejarah itu sendiri.
4.       Penyajian, yakni menyampaikan sintesa yang diperoleh dalam bentuk sebuah kisah.[9]
D.    Asal Usul Agama
1.      Agama Majusi (Zoroaster)
Agama majusi disebut juga agama zoroaster, nama ini di nisbahkan kepada pembangunnya, yaitu Zharathustra, seorang dari suku spitama yang hidup kira-kira tahun 660-583 SM. Dengan meninggalkan badan jasmaninya, ia dituntun oleh Vohu Mano, seorang makhluk halus disisi Tuhan, untuk menghadap Tuhan, kemudian ia diberi sabda Tuhan dan diberi tahu tanda bukti yang agung. Sejak mulai itu beliau sering menerima wahyu tuhan. Ia mendapat perlawanan dari pihak “ kejahatan” , tetapi selalu menang.
Dengan giat dan patuh beliau mengembangkan agamanya. Seorang raja di kota Balq yang bernama raja Kavi vistasshpa jadi pengikutnya yang patuh dan setia. Raja tersebut masuk dengan kesadaran, setelah berdebat dengan Zarathushtra selama tiga hari tiga malam menyatakan kebenaran agama yang dibawa oleh Zarathustra. Akhirnya agama zoroaster menjadi agama bangsa media dan bangsa Persia dan menjadi agama nasional, yakni agama yang dipeluk oleh segenap bangsa Persia dan bangsa Media.
2.      Yahudi
Yahudi adalah nama suatu bangsa yang lazim disebut Israel atau Ibrani (Hebrew). Bangsa Israel atau yahudi dalam Al Qur’an disebut bani Israel, artinya keturunan Israil . Israil ialah nama atau gelar bagi nabi Ya’qub yang artinya “ pejuang untuk Tuhan” atau yang taat berbakti kepada Allah.
            Agama yang dipusakakan Nabi Musa as kepada bangsa Israil adalah agama tauhid, dan isi kitab suci taurat yang utama ialah sepuluh perintah yang wajib dijunjung oleh orang Israil. Setelah meninggalnya Nabi Musa a.s mereka telah banyak melupakan hal-hal yang berhubungan dengan perjanjian Tuhan, mereka menyembah Yahweh yang dianggap bersemayam diatas peti perjanjian yang dijaga oleh dua ekor binatang lembu yang bersayap dan bermuka empat. Jika bangsa Israil itu berperang peti perjanjian itu tentu dibawanya; yaheh mempunyai sifat-sifat dengan perang. Adat istiadat kafir mereka ambil, hingga akhirnya terjadi penyembahan berhala dikalangan Israil.
3.      Nasrani
Istilah Nasrani berasal dari nama kota Nazareth, yaitu desa kecil yang terletak dikaki sebuah bukit sebelah selatan Yerussalem. Dalam bahasa arab disebut Nasirah. Agama ini dinamakan juga agama kristen, yaitu diambil dari nama Kristus gelar kehormatn keagamaan buat Yesus dari Nazareth. Kristus ialah bahasa Yunani dari perkataan Messias dalam bahasa Ibrani, dan berarti diurapi. Istilah ini berasal dari kebiasaan Israil kuno yang tidak memahkotai raja-raja, tetapi mengurapinya. Pengangkatan kehormatan agama ini dilakukan atas perintah Yahweh, Tuhan dari bangsa Israil.
4.      Budha.
Budha bukan nama orang melainkan gelar. Nama pendiri agama ini iala Sidharta Gautama atau biasa disebut Cakyamuni, artinya orang tapa dari suku turunan Cakyas.
Sesungguhnya agama budha seperti yang sekarang ini tak dapat disebut “agama” dalam arti yang sebenarnya, karena tak ada dalam agam budha ajaran tentang tuhan, kewajiban manusia kepda tuhan dan sebagainya, seperti yang didapat dalam agama lain. Dewa dalam agama budha bersifat sebagai makhluk, takluk kepada hukum alam “rusak” dan “berubah” seperti manusia.
Dan budha gautama sendiri bukanlah tuhan atau penjelmaan tuhan di dunia ini melainkan manusia biasa. Dalam agama budha tidak pernah diajarkan, bahwa seorang budha menjadi pencinta alam ini, atau memerintah dunia mlainkan hanya guru memberikan pengajaran yang benar kepada manusia.
Selanjutnya agama budha tidak mengakui kesucian kitab-kitab wedha dan tentang setatus manusia, budha telah menentukan bahwa manusia itu seluruhnya sama, tidak ada kelebihan satu sama yang lain.
5.      Islam
Agama islam adalahb agama yang dibawa oleh nabi Muhammad dari Allah SWT dan dipelihara serta dipahamkan dengan rapi dan teliti sekali oleh para sahabatnya dan orang-orang pada zaman sahabat itu.[10]



IV.             KESIMPULAN
pendekatan historis merupakan usaha untuk menelusuri asal-usul berdasarkan data-data sejarah. Penelitian berbasis sejarah yakni melakukan rekonstruksi terhadap fenomena-fenomena masa lampau baik gejala keagamaan yang terkait dengan, politik, sosial, ekonomi dan budaya.
Metode dalam pendekatan historis yaitu : Metode Lisan, Metode Observasi, dan Metode Dokumenter.
Pendekatan sejarah dalam perbandingan agama memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut :
a.       untuk menemukan gejala-gejala agama dengan menelusuri sumber dimasa silam
b.      Untuk menemukan sumber-sumber dan jejak perkembangan prilaku keagamaan sebagai dialog dengan dunia sekitarnya
c.       Untuk mencari pola-pola interaksi antara agama dan masyarakat
d.      Membimbing kearah pengembangan teori tentang evolusi agama dan perkembangan tipologi kelompok-kelompok keagamaan.
Tahap-tahap yang digunakan dalam Pendekatan Historis meliputi Heuristik, Kritik (sejarah), Interpretasi, Penyajian.

















[1] http://www.slideshare.net/guest0579d0/metode-dan-pendekatan-dalam-ilmu-perbandingan-agama
[2] Mircea Aliade, dkk, Metodologi Studi Agama, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000), Hlm. 279
[3] Adeng Muchtar Ghazali, Ilmu Perbandingan Agama,(Bandung: Pustaka Setia,  2000), hlm 39
[4] Djam’annuri, Agama Kita,(Jogjakarta: Kurnia Kalam Semeasta, 2002), hlm 18
[5]  Zakiah Darajat, Perbandingan Agama, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 79
[6] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm. 4-5
[7] Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, (Yogjakarta: Kanisius, 1995), hlm. 31
[8] Dudung Abdurrahman, Metodologi penelitian Sejarah, (Yogyakarta : Ar- Ruzz Media, 2007), hlm.84
[9] http://aalmarusy.blogspot.com/2010/12/metode-penelitian-sejarah.html
[10] Mohamad Rifa’i, Perbandingan Agam, (Semarang: Wicaksana, 1984), hlm. 20-135

Tidak ada komentar:

Posting Komentar